Presiden DCRR Angkat Bicara Soal Agenda Besar Bangsa Aceh
BansigomDonya I Banda Aceh – Dalam Wawancara Khusus yang digelar di timang kopi pada dini hari, Teungku Syekhi yang dinobatkan sebagai Presiden DCRR(Duta Central Revolusi Rakyat) menyampaikan perihal akan ada agenda besar Bangsa Aceh yang dipusatkan di Pidie, tepatnya pada 24 Oktober 2022. Ungkap Teungku Syekhi.
Saat diwawancara, Presiden menyebutkan perihal agenda besar Bangsa Aceh akan berhimpun dalam satu gerakan aksi massa, mempertanyakan kejelasan perdamaian yang tertuang dalam MoU Helsinki. Hal itu disampaikannya secara terbuka untuk Bangsa Aceh yang ada di Aceh khususnya, dan yang tersebar diseluruh Dunia umumnya. Senin 19/9/2022.
Menyangkut dengan agenda besar itu, menurut Presiden sudah terkoordinasi dengan seluruh mantan kombatan GAM di Aceh dan di seluruh Dunia. Ia menambahkan, bahwa Bangsa Aceh banyak yang kecewa atas perjanjian damai RI dan GAM.
Selanjutnya perihal akan bergeraknya Bangsa Aceh yang menghimpun diri dalam satu barisan gerakan massa aksi yang dipusatkan di Pidie, Presiden mengatakan akan bergerak bersama rakyat melakukan gerakan aksi damai, bermakna tanpa kekerasan, dan tidak melawan hukum. Ujar Presiden.
Gerakan Duta Central Revolusi Rakyat bangkit disebabkan Mou Helsinki dianggap tidak hadir untuk kepentingan Bangsa Aceh dan tidak hadir untuk perjuangan Aceh, MoU Helsinki juga dianggap sebagai satu fase terburuk dengan lahirnya partai lokal dan juga tidak bermakna lagi sesuai harapan dan cita-cita para Syuhada dan Bangsa Aceh. Sebut Presiden.
Presiden DCRR Teungku Syekhi menyebutkan bahwa ia hadir bersama rakyat, sebagai upaya membuka tabir kebohongan para mantan petinggi GAM yang telah membohongi Bangsa Aceh dan para mantan combatan dilapangan .
Tambah Teungku Syekhi, “Gerakan ini murni sebagai gerakan menyampaikan suara Bangsa Aceh menyatakan sikap atas kekecewaan terhadap MoU Helsinki yang sudah 18 tahun dianggap tidak berarti apapun, dari turunan butir-butir MoU tentang bendara bintang bulan yang tak kunjung dapat dikibarkan, hingga janji bagi hasil alam bumi Aceh yang tak ditepati, sampai kemerdekaan berdaulat diatas tanah Aceh yang belum diwujudkan.”Sebut Teungku Syekhi. []
