Lagi, ASNLF Kenalkan Budaya Aceh pada Warga Denmark
BansigomDonya I Denmark – Sejumlah diaspora Aceh yang tergabung dalam organisasi Acheh-Sumatra Kultur yang bermukim di kota Års, Denmark, ikut berpartisipasi dalam festival Kimbrerfesten, acara kebudayaan tahunan yang diadakan untuk menandakan berakhirnya musim panas di negara Denmark.
Kota Års sendiri adalah kota yang berjarak 400 Km arah utara dari ibukota Copenhagen. Festival kebudayaan tradisional itu dilakukan pada hari Minggu 11 September lalu.
Denmark adalah salah satu anggota negara Uni Eropa yang sejak dulu mempunyai kebijaksanaan untuk menerima imigran dari berbagai negara. Salah satu dari pengungsi tersebut adalah diaspora Aceh yang berimigrasi ke Denmark sejak konflik Aceh berkecamuk. Terang Keutuha ASNLF, Teungku Abdul Hanif, lewat rilis yang dikirimkan kepada media BansigomDonya, Jum’at 23/9/2022.
Ia menambahkan, perlu mengambil kesempatan tahunan untuk memperkenalkan budaya pendatang kepada warga Denmark, diaspora Aceh disana memamerkan budaya dan bendera Aceh kepada warga Denmark yang berdiri di pinggir kiri kanan jalan. Salah satu aksinya dengan memakai pakaian adat Aceh di belakang mobil yang dihiasi sebagai pelaminan.
Meskipun bagi kulit Asia cuaca sudah mulai sejuk, peserta dari barisan Aceh tetap bersemangat ikut serta. Ini dibuktikan dengan di ikutsertakan anak-anak Aceh yang lahir dan besar di Denmark dengan mengenakan pakaian adat. Sedangkan orang tua mereka membawa poster, spanduk, serta membagikan selebaran yang menjelaskan tentang Aceh.
Sebagai solidaritas sesama bangsa di pengasingan, mereka juga membawa bendera Papua Bintang kejora dan Republik Maluku Selatan, bahkan ikut juga bendera Denmark. Acara karnaval tahunan tersebut juga diikuti beberapa organisasi sosial dan budaya lain yang ada di kota setempat.
Salah seorang Diaspora Aceh di Denmark, Salehati, menuturkan bahwa tujuan mereka ikut serta dalam pawai itu adalah sangat penting. Ini dikarenakan generasi anak-anak mereka yang lahir di sana adalah sebagai generasi kedua dan ketiga yang harus mampu bertutur bicara dalam bahasa Aceh.
Begitu juga Salehati menuturkan bahwa ada perbedaan bagi mereka yang tinggal di Aceh. Bagi mereka yang tinggal di Denmark untuk menjaga budaya agar tidak terkikis budaya dari mana mereka berasal.
Salehati menjelaskan juga bahwa meskipun anak-anak mereka berbahasa dan warga negara Denmark namun kulit dan identitasnya bukan warga Denmark.
Bahasa Aceh adalah sebuah identitas. Bila kita tidak berbahasa Aceh berarti kita tidak ada bangsa, bahasa dan negara.
Hal senada juga disampaikan oleh salah seorang anggota Presidium Acheh-Sumatra National Liberation Front (ASNLF), Nasir Usman menjelaskan, bahwa tujuannya berpartisipasi dalam festival tersebut untuk memperkenalkan kepada masyarakat Denmark bahwa Aceh mempunyai budaya tersendiri.
Nasir menambahkan juga bahwa pentingnya memperkenalan budaya Aceh sebagai identitas sebuah bangsa. Salah satunya melalui kesempatan di festival Kimbrerfesten ini untuk memperlihatkan identitas Aceh sebagai sebuah bangsa di mata warga Denmark. [red]
