BERBAGI DI HARI 10 MUHARRAM
BansigomDonya.my.id I Sepuluh Muharam disebut hari (Asyura) merupakan tanggal keberkahan dan banyak peristiwa yang bersejarah terjadi sejak zaman nabi pada hari Asyura, di antaranya menimpa Nabi Adam, Nabi Yunus, dan Nabi Ibrahim, Nabi Aiyub, Nabi Nuh, Nabi Muhammad Saw.
Karena itu, sudah selayaknya kita memanfaatkan bulan pertama di tahun hijriah ini dengan melakukan sejumlah amalan kebaikan. Selain berpuasa pada hari Asyura, kita juga dianjurkan untuk berbagi rezeki pada hari tersebut. Hari Asyura pada tahun ini bertepatan pada hari Senin, 8 Agustus 2022.
Rasulllah saw bersabda :
من وسع على عياله في يوم عاشوراء وسع الله عليه في سنته كلها
Artinya : Orang yang melapangkan keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan hidupnya pada tahun tersebut (HR At-Thabrani dan Al-Baihaqi).
Yang dimaksud melapangkan keluarga di sini adalah mencukupi kebutuhan hidup keluarga, yaitu kebutuhan makanan ataupun kebutuhan lain.
Dalam hadits diatas dijanjikan bagi orang yang mencukupi kebutuhan keluarganya, kebutuhan hidupnya akan dilapangkan rezekinya dalam setahun. Kebenaran hadits ini pernah dibuktikan oleh salah seorang ulama salaf bernama Sufyan As-Tsauri.
Ia berusaha untuk melapangkan kehidupan keluarganya pada hari Asyura. Setelah itu, ia merasakan kalau kehidupannya dilapangkan sebagaimana dijanjikan dalam hadits di atas.
إنا قد جربناه فوجدناه كذلك
Artinya : Kami pernah mencobanya, dan kami memperoleh ganjarannya (kelapangan).
Berbagi di hari Asyura kepada keluarga itu baik dan dianjurkan, namun tentunya akan lebih baik pula bila kita bisa berbagi juga kepada orang lain yang membutuhkan.
Karena itu pula, umat muslim di Indonesia, khususnya Aceh setiap 10 Muharram memasak dan membagi bagikan bubur Asyura.
Dimana Salah satu fersi itu berawal dari sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW saat perang Badar.
Dikisahkan, usai perang Badar, jumlah prajurit Islam menjadi semakin banyak.
Saat itu, ada seorang sahabat Nabi sedang memasak bubur.
Namun sahabat tersebut tak mengira ternyata porsi bubur yang ia masak tak sebanding dengan jumlah prajurit yang harus diberi makan.
Rasulullah akhirnya memerintah para sahabat untuk mengumpulkan bahan makanan apa saja yang ada agar dicampurkan ke bubur yang telah dimasak, dengan tujuan supaya porsi semakin banyak dan cukup untuk makan para prajurit.
Peristiwa ini pun menjadi tradisi yang terus menerus dilakukan oleh umat Islam, dalam rangka menyemarakkan keistimewaan bulan Muharram.
Selain itu juga ada yang menyebutkan, tradisi memasak Bubur Asyura itu berawal dari peristiwa penting saat Nabi Nuh turun dari kapal setelah berlayar empat puluh hari didalam kapal karena banjir bandang.
Saat pertama kali menyentuh daratan, Nabi Nuh memerintahkan umatnya untuk mengumpulkan semua sisa perbekalan selama berlayar.
Kemudian, ia memerintahkan agar semua sisa bekal itu dicampur dan diaduk menjadi adonan bubur.
Bubur itulah yang kemudian disedekahkan kepada semua orang yang selamat dari bencana banjir bandang kala itu.
Dari dua kisah tersebutlah pembuatan bubur Asyura masih dilaksanakan oleh sebagian besar umat islam di Indonesia, apalagi Aceh yang mayoritas masyarakatnya Islam.
Meski demikian, kita berharap berbagi dengan sesama dan memenuhi kebutuhan keluarga tidak hanya kita lakukan di hari Asyura saja. Namun di hari 10 Muharram kita meningkatkan kuantitas berbagi kepada keluarga dan sesama dalam melakukan Sunnah.
Oleh :
[Tgk. Zahlul Fitra, M.Pd].
