Besok Pertunjukan Teater Monolog “Sebelum Sarapan” Dipentaskan
BansigomDonya I Banda Aceh, Produser Telaga Art, Teungku Zulfajri menyampaikan perihal akan berlangsungnya pementasan teater monolog yang bertema sebelum sarapan akan digelar besok malam sekira bakda shalat Insya, dimulai lebih awal lantaran ada tiga garapan yang akan dipentaskan, kalau memang penonton sudah ada beberapa orang, pementasan teatrikal langsung dijalankan, jawab Zulfajri saat dikonfirmasi Minggu 2/10/2022.
Zulfajri mengatakan ini sebagai kegiatan mandiri yang dibuat bersama dan disponsori kawan-kawan dari taman budaya dan ada yang bantu dari percetakan. Teater monolog itu digelar sebagai upaya menumbuhkan motivasi untuk latihan meningkatkan bakat dan minat para pelaku teatrikal seni dan memberi ruang gerak bagi para aktor seniman di Aceh berkontribusi lewat seni teatrikal, ujar Zulfajri.
Hal itu dilakukan juga sebagai upaya pembuktian eksistensi pergerakan seni tetrikal di Aceh bahwasanya ada, sebut Zulfajri.
Ini ulasan sekilas, Saat sebelum sarapan merupakan waktu yang sering dimanfaatkan untuk merencanakan langkah yang akan dijalani untuk menjelajahi hari.
Pagi hari sebelum sarapan kerap terjadi percakapan penting dibalik meja makan keluarga atau di dapur sambil menunggu hidangan tentang hari kemarin yang telah dilalui dan tentang kisah indah semalam.
Banyak kisah indah sampai kisah tragis dikupas secara intim dengan anggota keluarga dipagi hari sebelum anak pergi sekolah, sebelum orang tua berangkat kerja.
Percakapan Ayah dan anak, suami dan istri, nenek dan cucu; soal rumah tangga, ekonomi, politik, pendidikan sampai utang piutang kerap terjadi saat menunggu sarapan.
Sekelumit kisah rumah tangga telah menjadi cerita pendek yang diramu secara rapi oleh Eugene O’neil dalam bentuk naskah panggung dan akan dibawakan dalam pertunjukan teater monolog di panggung taman budaya besok malam, senin 3/10/2022.
Naskah Sebelum Sarapan ditulis tahun 1916 dan peristiwanya terjadi dalam sebuah keluarga kecil pada sebuah apartemen di Amerika Serikat.
Wah, cerita ini memiliki jarak yang sangat jauh baik secara periode maupun secara lokasi kejadian.
Sementara itu, kini cerita tersebut dibawakan kembali di Aceh dan dengan kondisi yang tentu sangat jauh berbeda secara kultur budaya, antara Amerika tahun 1936 dan Indonesia tahun 2022.
Namun itulah kekuatan sastra dan daya imajinasi seorang penulis.
Kontek yang diangkat dalam karya sastranya kadang melampaui zaman.
Cerita yang ditulis dengan judul aslinya Before Breakfast yang kemudian hari diterjemahkan oleh Wiwit Anggraini kedalam bahasa Indonesia mengangkat kisah percakapan suami istri sebelum mereka memulai sarapan.
Persoalan rumah tangga yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan emosional, lalu pertaruhan sikap seorang istri dalam mempertimbangkan kebimbangan hati akibat dari kebiasaan buruk suaminya.
Bagaimana kesetian seorang istri diuji dan bagaimana sang istri melewatinya, apa ending dari rumah tangga mereka? Nantikan jawabannya dalam pertunjukan teater bertajuk panggung monolog 3/10 senin malam di Taman Budaya Banda Aceh yang di persembahkan oleh Telaga Art.
Tiga buah pertunjukan monolog yang dimainkan oleh Tasya, Rifkah, Isma dari teater Rongsokan dan disutradarai oleh Mustafa Kamal, Muhammad Kadafi, dan Dendi Swarandanu akan menawarkan tiga garapan berbeda dengan karakter berbeda dan juga konsep partistik yang berbeda. Selamat menonton!
Teungku Zulfajri
Produser/pimpinan Telaga Art
