DCRRA Gelar Aksi Konvoi dan Orasi Pembebasan Bangsa Aceh dari Pembodohan MoU Helsinki dan Penjajah
DCRRA Gelar Aksi Konvoi BansigomDonya I Pidie – Kebangkitan pergerakan perjuangan Bangsa Aceh yang diprakarsai Duta Central Revolusi Rakyat Aceh(DCRRA) yang dipimpin oleh Teungku Sufaini Usman atau yang akrab disapa Teungku Syekhi, secara bersama-sama menggelar konvoi dan orasi pembebasan Bangsa Aceh dari penjajahan dan pembodohan kolonialism internal dan eksternal.
Massa aksi yang bergerak berlangsung saat cuaca panas di bawah terik matahari dengan teriakan-teriakan lantang dan cadas, massa aksi juga para orator menyampaikan agar Rakyat Aceh menyadari bahwa MoU Helsinki adalah penipuan yang tidak bermakna bagi agama, kedelatan, juga Nasional bangsa Aceh. Massa aksi juga menyerukan kepada Rakyat Aceh agar tidak mabuk dengan partai, baik partai lokal maupun Nasional.
Suara teriakan orasi menggema lewat speaker pengeras yang disampaikan secara bersama dalam konvoi massa Aksi, sehingga suara itu terus terdengar berdentum luas di jajaran Bangsa Aceh di Pidie hingga seluruh Dunia.
Sempat live, hingga luas menyebar berita Massa Aksi dari DCRRA juga dibantu bersama teman-teman di media sosial dari youtube, facebook, Whatsap, tiktok juga Snackvidio. Sehingga berita itu tersebar keseluruh dunia. Senin, 24/10/2022.
Dalam konvoi massa aksi yang diawali dari depan mesjid Istiqamah Teupin Raya, hingga berakhir di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPRK) Pidie, sempat disampaikan oleh Teungku Atchin, pernyataan sikap dari DCRRA dengan bunyi, Bansa Acheh meminta untuk diselesaikan perkara MOU Helsinki secara tegas, atau massa aksi tuntut meurdehka dan bendera bulan bintang akan segera naik di Nanggroe Aceh sebelum tahun 2024. Perjuangan Acheh Meurdehka adalah supaya Nanggroe Acheh berdiri sendiri dan begitu juga dalam fahaman indonesia supaya Acheh ada dalam indonesia.
Massa aksi meminta pada pejabat-pejabat indonesia di Acheh, dari Gubernur, Bupati sampai jajaran dibawahnya agar menegakkan keadilan untuk bangsa Acheh secara merata, dan tidak berbuat sewenang-wenangnya.
Massa aksi meminta semua pembesar GAM, TNA supaya tidak melibatkan diri dalam partai politik lokal dan partai politik nasional, massa aksi juga meminta GAM supaya dapat kembali dalam perjuangan GAM yang benar.
Massa aksi menyatakan bangsa Acheh menuntut hak meurdehka sesuai isi pembukaan UUD 1945 untuk negara kami:” Merdeka adalah hak segala bangsa dan semua penjajah di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan hak-hak manusia dan tidak sesuai dengan keadilan”.
Massa aksi menyatakan, apabila poin-poin di atas tadi tidak terealisasi, maka massa aksi dari gerakan revolusi rakyat Acheh akan memobilisasi massa lebih besar lagi.
Ke empat poin diatas dinyatakan sangat penting disampaikan kepada bangsa Acheh, indonesia, pembesar dan petinggi GAM juga kepada Bangsa Acheh seluruh Dunia. (MH)
