GoodFa ; Rakyat Harus Belajar Menuju Aceh yang Beradab
Dalam sejarah panjang peradaban, kehancuran suatu bangsa jarang dimulai dari senjata musuh, melainkan dari hilangnya akal sehat dan harga diri rakyatnya sendiri.
Aceh hari ini tidak sedang kekurangan sumber daya, tapi kekurangan kesadaran.
Kesadaran untuk menjadi rakyat yang beradab bukan dalam bentuk kekayaan materi, melainkan dalam keberanian berpikir sendiri, menolak dijual murah, dan mau memperbaiki diri tanpa disuruh.
Rakyat beradab bukanlah rakyat yang kaya, melainkan rakyat yang punya prinsip dan akal sehat. Mereka tidak rela menjual suara demi uang receh. Mereka malu ketika berbuat salah. Mereka tidak ikut rusuh demi status, dan tidak diam ketika melihat ketidakadilan. Mereka tahu, kalau negeri ini ingin berubah, maka perubahan itu harus dimulai dari dalam diri sendiri.
Sayangnya, selama ini rakyat sering hanya menjadi penonton dari permainan elite. Banyak yang menyalahkan penguasa, tapi tak sadar bahwa dirinya pun masih hidup sebagai massa tanpa arah.
Maka, pertanyaannya sekarang bukan lagi: “Siapa yang salah?”, tapi: “Sudahkah kita mendidik keluarga kita dengan nilai?”
Rakyat beradab memulai revolusi bukan dengan senjata, tapi dengan mendidik keluarganya dengan nilai: kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian berpikir. Mereka tidak membanggakan gelar, tapi menghormati ilmu. Mereka tidak meminta-minta pada negara, tapi membangun komunitas yang kuat.
Mereka tidak menyembah pejabat, tapi menuntut tanggung jawab dengan sopan tapi tegas. Mereka tidak menjual marwah demi sekarung beras, karena tahu, harga diri tidak bisa dibeli.
Aceh membutuhkan rakyat jenis ini yang tidak hanya pintar protes, tapi juga mampu bertindak. Yang tidak hanya pintar bicara agama, tapi berani hidup bermoral. Yang tidak hanya ingin berubah, tapi rela bersusah payah demi perubahan itu. (PON)
