Berhasilnya ASNLF/AM Kembali Menjadi Anggota Tetap UNPO
BansigomDonya I Norway, Dalam perjalanan panjang 2,5 tahun, Asnlf berusaha memperjuangkan kembali keanggotaanya di UNPO, setelah di proklamasi kembali di Denmark akhir Tahun 2011. Tulis Bukhari Raden lewat Realisnya Sabtu 1/10/2022.
Dalam rapat presidensi di Munich Jerman (27 Juni 2014), Asnlf kembali diterima sebagai anggota tetap oleh sebuah badan dunia yang memperjuangkan bangsa yang tertindas (UNPO).
UNPO sendiri mengurusi atau mengorganisir event-event internasional seperti pelatihan tentang hak azasi manusia, cara berdiplomasi, manegemen politik, bantuan darurat korban perang, dan cara cara memperjuangkan keadilan bagi bangsa bangsa yang tertindas, serta memfasilitasi bagi rakyat yang ingin menentukan nasib sendiri(independent).
ASNLF selalu mendapat undangan khusus bila ada event-event besar yang diorganisir oleh UNPO walaupun belum menjadi keangotaannya, ini merupakan berkat approuve dari staff dan leader organisasi Bangsa Aceh yang merupakan kesinambungan perjuangan yang di proklamirkan oleh Almarhum Muhammad Hasan Ditiro sebagai pendiri ASNLF itu sendiri.
Acara-acara yang telah diikuti oleh kader kader muda ASNLF seperti Speak out 2012 di Kantor UNPO di Haaque di Belanda, Project Cycle Manegement, dan seminar Self Determination 21, century serta event event lain lainnya.
Begitu juga pada rapat besar human right di jenewa ASNLF turut mengirim pelobi pelobi ulung nya bersama pejuang kemerdekaan dari OPM Maluku dan Papua Mardeka.
Dari rapat yang di ikuti Asnlf selalu medapat perhatian besar dari peserta dikarnakan kehandalan dalam melobi dan berdiplomasi, itu dikarenakan Asnlf mengirim orang orang yang berpendidikan tinggi dan orang orang yang punya pengalaman panjang baik dalam membangun diplomatik maupun lobi lobi internasional yang sebahagian besar merupakan didikan langsung Dr Muhammad Hasan Ditiro.
Pada seminar terakhir di Antwerp Belgia 31 maret sampai 30 April, salah seorang pengurus bidang ekonomi UNPO Jeroen Zandberg menanyakan tentang sokongan Rakyat Atjeh terhadap ASNLF kepada Keutua Presidum Teungku Arif Fadhillah. Beliau bertanya sambil menyidik betulkah ASNLF mendapat sokongan rakyat ditengah-tengah isu perdamaian yang sering di kumandangkan oleh pemerintahan Aceh dan Indonesia?, dapatkah ditunjukan berapa persen sokongan yang mulai ada? Beliau menjawab kalau saya tunjukkan berapa rakyat Aceh yang menyokong Asnlf saat ini, dapatkah anda mempertanggungjawabkan keselamatan bila terjadi sesuatu terhadap mereka, Ariffadhilah balik bertanya.
Dalam waktu yang hampir bersamaan Jeroen Zandberg mendekati saya dan menyidik lagi dengan pertanyaan yang hampir sama. Ketika itu saya memberi jawaban yang lebih bersemangat lagi. Kata saya, sekarang hampir setiap hari kami menerima telefon dari berbagai kalangan dari Aceh ingin bergabung dengan Asnlf dan dalam media facebook dan group laman web Asnlf hampir saban hari bangsa Aceh mau bergabung, jadi hampir (Uncountable) kataku serta keinginan merdeka rakyat Aceh belum punah malah mulai bersemangat akibat Asnlf di pelopori oleh orang orang jujur dan pandai, kataku(Bukhari Raden).
Setelah mendengar panjang lebar penjelasan itu beliau mengatakan, kami bersama presidum akan mengadakan rapat presidensi tidak lama lagi di Munich Jerman dan akan membahas tentang keanggotaan Asnlf nanti. Janjinya.
Seperti diketahui Setelah diputuskan keanggotaannya tahun 2008 oleh pendahulu perjuangan (sumber unpo), Asnlf kembali berkiprah di arena perjuangan yang mulai ditinggalkan oleh sebahagian pengikut setia Proklamator Aceh Merdeka Teungku Muhammad Hasan Ditiro.
Berkat lobi lobi internal dan sosialisasi kepada rakyat Aceh, maka Asnlf mendapat tempat di UNPO dan berhasil merebut kembali partisipasi mantan Pejuang, Ulama, kaum akademi dan khusunya rakyat Aceh itu sendiri, maka tak diherankan Asnlf mendapat support yang begitu hebat baik di Aceh, Eropa, Australia, Amerika dan Malaysia.
Kita bisa melihat bangsa Aceh begitu antusias menyimpati adanya kelanjutan pergerakan kemerdekaan di bawah payung Asnlf, hal ini bisa dibuktikan dengan beredarnya plakat plakat dan bendera Aceh di media di Aceh, di kantor UNPO dan kantor PBB di jenewa. Ditambah lagi siaran pers dan berita terbaru hasil kerja nyata Asnlf di halaman koran dan rubrik mulai membuka kembali mata rakyat Aceh.
Asnlf merupakan tempat terakhir ketergantungan perjuangan bangsa ini,
dan dalam rapat besarnya di Denmark pada bulan mai 2012 telah dibentuk struktur kepemimpinan dalam bentuk presedium yang artinya kepemimpinan bersama dan seorang ketua presidium yang dikawal oleh empat anggota presidium, hal ini untuk menguatkan keabsahan dalam sebuah organisasi dan kebijakan.
Asnlf mempunyai fondasi sebagai basis perjuangan yang bersendikan kepada kekuatan rakyat (bukan kelompok) dan merupakan organisasi yang tidak mengutamakan violent serta menggunakan cara yang beradab seperti jalur diplomatik, ekonomi, lobi lobi internasional dan juga mengedepankan hak azasi manusia.
Strategi yang dipasang Asnlf adalah dengan cara meggunakan sarana tehnologi baik dalam berkomunikasi maupun dalam menjalankan kerjanya.
Media maya, tabloit dan pendekatan group dan perorangan (konsolidasi) merupakan salah satu cara untuk merangkai kembali misi perjuangan, sekaligus mengangkat hasrat rakyat untuk merdeka ketingkat internasional, sekaligus menyerang Indonesia sebagai negara yang masih menerapkan sistem kolonial tampa memperdulikan hak perogratif bangsa setempat, dalam hal ini Indonesia selalu berusaha menyempitkan arti demokrasi seperti yang tercantum dalam amanat PBB.
Solusi yang ditawarkan oleh Asnlf adalah referandum, dimana seluruh ketentuan dan keinginan rakyat adalah mutlak untuk di kedepankan.
Hak untuk menentukan nasib sendiri (Self Determination) seperti negara negara yang telah merdeka harus di utamakan.
Hal ini tidak bertentangan dengan hukum internasional, karena Aceh merupakan negara succesosstat, bermakna Aceh merupakan negara berkesinambungan dari kerajaan Aceh sebelum belanda menyatakan perang dengan Aceh Tahun 1873 dan pemutusan penyataan perang oleh Belanda belum di permaklumkan sampai sekarang, berarti Aceh masih sebuah negara yang di aneksasi oleh negeri Belanda dan Indonesia.
Ir Bukhari raden
Norway
◦Foto : Keutuha Presidium ASNLF, Teungku Arif Fadhillah Dikeu Gedong Uni Eurupa

