Kegagahan Pejuang Wanita Aceh dalam Perang Melawan Belanda
BansigomDonya.my.id | Tokoh-tokoh Belanda yang pernah terlibat dalam berbagai pertempuran di Indonesia mengakui, belum menjumpai suatu perlawanan, tiada kecuali dari wanita-wanitanya, yang sangat tinggi semangat perjuangannya bahkan fanatik dalam menghadapi maut, kecuali Aceh.
Serangan Belanda terhadap Kerajaan Aceh yang bermula pada 26 Maret 1873 berlangsung puluhan tahun lamanya dengan menelan korban jiwa yang sangat besar, kerugian yang tak terkira dan penderitaan yang luar biasa. Perang antara kedua bangsa ini telah berkecamuk terus- menerus di serata daratan Aceh hingga pada saat masuknya tentara Jepang pada 12 Maret 1942.
Maret 1942 dan bulan-bulan sebelumnya, rakyat Aceh dengan persenjataan tradisionil dan beberapa laras senjata api hasil rampasan, telah melakukan penyerangan teratur ke tangsi-tangsi militer Belanda ataupun sergapan terhadap konvoi-konvoi. Perjuangan ini berhasil!
Sebelum pasukan Jepang mendarat di Ujong Batèe (Aceh Besar) dan Kuala Bugak (dekat Peureulak, Aceh Timur), tentara Belanda yang menghadapi perlawanan rakyat, mengundurkan diri ke gunung di pedalaman. Wartawan Belanda Paul van’t Veer menulis bahwa perang Belanda di Aceh yang bermula 26 Maret 1873 baru berakhir pada tahun 1942. Ia membaginya dalam 4 babak:
1. Perang yang pertama, 1873.
2. Perang yang kedua, 1874-1880.
3. Perang yang ketiga, 1884-1896.
4. Perang yang keempat, 1898-1942.
Dijelaskannya, bahwa Belanda hampir 69 tahun lamanya tak henti-hentinya berperang di Aceh. Aceh adalah daerah yang paling akhir dimasukkan ke dalam daerah pemerintahan Belanda, dan yang mula-mula sekali pula keluar daripadanya. Pengunduran diri Belanda pada tahun 1942 adalah akhimya.
Perang melawan penjajahan yang terjadi di Aceh telah memberi arti dan pengaruh besar atas perjuangan bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan. Kebanyakan orang Belanda dan pemerintahnya, kata D.M.G. Koch, menyangka bahwa seluruh rakyat Indonesia di bawah pimpinan gerakan nasionalnya pastilah berpihak kepada Belanda, jika timbul peperangan. Tetapi sekarang khayalan itu telah dimusnahkan oleh kenyataan ketika Jepang menyerbu ke negeri ini.
Banyak juga orang Belanda dengan cara terang-terangan menganggap kebodohan dan fanatisme mencengkeram kehidupan orang Aceh. Satu di antara mereka Jenderal Mayor H.N.A. Swart, Gubernur Militer dan Sipil Aceh. Pada masa jabatannya, Swart memerintahkan pendirian sekolah-sekolah desa. Keputusan tersebut diambil setelah ia mempertimbangkan bahwa di daerah Aceh yang belum juga aman dan sebentar-sebentar terjadi perlawanan rakyat, perlu sekali adanya sekolah desa untuk menghilangkan kebodohan dan fanatisme pada agama.
Anggapan Swart bertentangan dengan kenyataan. Perjuangan yang berlangsung di Aceh, atau yang disebut Swart “perlawanan rakyat”, terjadi karena Aceh tidak mau menerima kehadiran bangsa Belanda ke daerahnya. Mereka melawan Belanda, tiada lain sebabnya karena kedaulatan mereka dilanggar. Seorang Belanda lain, Joh. Langhout, bertolak belakang dengan pendapat Swart. Katanya rakyat Aceh adalah volk dat voor zijn onafhankelijkheid vocht, rakyat yang berjuang untuk kemerdekaannya.
Rasa tanggung jawab itulah yang mendorong mereka pada awal tahun 1942, tujuh puluh tahun setelah Perang Belanda-Aceh dimulai, untuk merebut kekuasaan dari Belanda. Menjelang masuknya Jepang di Indonesia, timbul suatu kevacuuman, tulis Dr. A.H. Nasution. Hal mengisi kevacuuman ini dapat dilihat di tingkat daerah bahwa memang berlaku prinsip teori vacuum itu. Misalnya di Aceh, tokoh-tokoh daerah, antara lain Teuku Nya’ Arif, telah mengisi kevacuuman tersebut dengan menuntut supaya Belanda menyerahkan pemerintahan kepada orang Aceh (Indonesia).
Karena itu sebelum Jepang menduduki Aceh, sebenarnya pemerintah Belanda sudah tidak berkuasa lagi dan kekuasaan Belanda itu telah dioper oleh rakyat setempat. Perang Belanda di Aceh telah melahirkan kesadaran pada Bangsa Indonesia, bahwa jiwa yang mencintai kebebasan dan kemerdekaan tidak mudah ditundukkan dengan ketangguhan materi belaka seperti yang dipunyai Belanda, karena cita-cita yang bersenandung di dalam hati sanubari sesuatu bangsa adalah senjata yang paling tangguh dari berbagai jenis senjata tangguh apa pun jua.
Pahlawan-pahlawan yang tewas kena peluru atau kelewang Marsose Belanda terlalu banyak. Mereka menewaskan dan ditewaskan. Di antara mereka terdapat kaum wanita yang keberanian serta kelincahannya tidak kalah dari kaum pria. Penulis Belanda, Zentgraaf, mengagumi peranan wanita Aceh dalam peperangan. Katanya mereka gagah berani dan memendam rasa dendam.
“Di medan-medan peperangan mereka menjalankan tugas tempur dengan keberanian tak takut mati sehingga sering-sering mengalahkan kecampinan seorang pria. Sampai-sampai ke bibir maut, mereka tetap memendam dendam permusuhan kepada lawannya dan pada detik-detik sakratil maut sedang merenggut nyawanya, dengan perasaan jijik dan amarah, mereka masih meludahi muka orang-orang yang merampas kemerdekaannya. Sukar rasanya mendapatkan seorang pujangga yang mampu secara indah mempesona melukiskan keluarbiasaan wanita Aceh.”
Mereka, pria dan wanita, telah berjuang dengan cara mengagumkan. Salah satu di antaranya ialah Cut Nyak Meutia, panglima perang wanita Indonesia di salah satu bagian utara Tanah Aceh. Cut Nyak Meutia, serikandi yang tewas pada saat sedang mengendalikan komando pertempuran, menyelesaikan baktinya sampai ke ujung hayat. Ia adalah seorang di antara demikian banyaknya pahlawan bangsa Indonesia. Dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 107 tanggal 2 Mei 1964, Cut Nyak Meutia almarhumah telah ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
Penulis, T.A. Talsya
Dikutip dari Cut Nyak Meutia: Srikandi Yang Gugur Di Medan Perang Aceh
