Air Mata Soekarno, Titik Awal Malapetaka Rakyat Aceh
Sejarah – Ada unggahan menarik dari akun bernama Pencinta Sejarah Tanah Air (Pejantan). Dalam cuitannya di media sosial, akun tersebut membahas sejarah panjang perjuangan rakyat dan ulama Aceh.
Unggahan itu menguraikan potongan-potongan perjuangan Rakyat Aceh. Perjuangan dari sebelum dan zaman Belanda berkuasa, zaman Jepang hingga masa setelah Indonesia merdeka.
Bahkan cuitan tersebut juga menceriterakan soal kekecewaan Rakyat Aceh terhadap Presiden Seokarno. Kekecewaan Rakyat Aceh itu oleh akun Pejantan diambil sebagai judul.
“Air Mata Seokarno, Titik Awal Malapetaka Rakyat Aceh”. Begitulah judul cuitan itu. Seolah mewakili sikap Rakyat Aceh tehadap sikap Sang Proklamator, Bung Karno.
Memang sejarah mencatat, bahwa Aceh merupakan bangsa besar dan diakui kedaulatannya oleh negara lain. Ketika Jawa, Sumatera Utara, Borneo hingga Papua menjadi bagian dari Hindia Belanda, Aceh masih berdaulat penuh.
Kedigjayaan Kesultanan Aceh mampu eksis saat itu dikarenakan ketaatan Bangsa Aceh dalam penerapan Syari’at Islam di wilayahnya.
Tak heran jika Bangsa Aceh menjadi lebih unggul dalam ilmu pengetahuan dibandingkan penghuni wilayah Hindia Belanda.
Ketika rakyat Jawa masih berperang menggunakan pedang dan panah, Prajurit Kesultanan Aceh sudah dilengkapi dengan senapan dan meriam.
Itu adalah bukti keunggulan Bangsa Aceh dalam hal ilmu pengetahuan, dibandingkan wilayah koloni Hindia Belanda.
Meriam ini bukti sejarah tentang besarnya kekuatan pasukan Kesultanan Aceh saat itu. Yang perlu diketahui bahwa meriam ini adalah pemberian dari Kekhalifahan Turki Utsmani.
Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Belanda mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen.
Pasukan Kesultanan Aceh menyambut serangan tersebut menggunakan meriam pantai dari Khalifah Ottoman.
Dengan air mata buaya, Soekarno menolak menandatangani surat tersebut. Tak ingin melukai hati Soekarno,Tengku Daud Beureh pun mempercayai Soekarno.
“Saya tidak ragu saudara Presiden. Sekali lagi, atas nama rakyat Aceh saya terima kasih atas hati Saudara Presiden,” begitu ungkapan Tengku Daud.
Dengan air mata buaya, Soekarno menolak menandatangani surat tersebut. Tak ingin melukai hati Soekarno,Tengku Daud Beureh pun mempercayai Soekarno.
“Saya tidak ragu saudara Presiden. Sekali lagi, atas nama rakyat Aceh saya terima kasih atas hati Saudara Presiden,” begitu ungkapan Tengku Daud.
Tak hanya itu, sebelum Soekarno berpamitan, seluruh hadirin yang ada di lokasi segera mengumpulkan emas dan uang. Emas dan uang itu untuk diberikan kepada Soekarno sebagai bekal perjuangan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Rakyat Aceh merogoh saku dan mencopot perhiasan yang ada di tubuh mereka. Begitu tingginya semangat untuk berkorban, hingga konon terjadi antrian para donatur.
Baik orang kaya maupun rakyat biasa, di beberapa masjid dan pusat pemerintahan Kotaradja (sekarang Banda Aceh). Antrian rakyat Aceh panjangnya sampai ratusan meter.
Beberapa jam kemudian terkumpulah dana sebesar 120.000 straits dollar ditambah 20 kg emas. Dengan modal tersebut, Indonesia berhasil membeli RI-001 Seulawah (Gunung Emas), pesawat kepresidenan pertama dalam sejarah Indonesia.
Namun bukannya merealisasikan janjinya, Soekarno malah mengingkari. Dengan sengaja Soekarno melebur wilayah Aceh menjadi bagian dari Sumatera Utara. Tujuannya supaya tak ada penerapan syari’at Islam di Aceh.
Demikianlah mengapa cuitan Pejantan itu meyebut bahwa airmata Soekarno adalah sumber malapetaka bagi Rakyat aceh. Hal Ini tak lain karena setelah itu Rakyat Aceh kehilangan kekayaannya.
Selain itu juga kehilangan hak dan kedaulatannya untuk menerapkan syari’at Islam yang telah lama mereka jalankan.
Yang perlu digarisbawahi, bantuan dari Rakyat Aceh itu benar-benar nyata. Selain itu juga efektif membantu eksistensi pemerintahan Indonesia yang saat itu tengah bangkrut akibat blokade ekonomi dari Belanda. (**)
Radar
