Etika Alam, Demokrasi, dan Tanggung Jawab Kepemimpinan
Oleh : Tarmidinsyah Abubakar
Saya lahir di Aceh, tanah yang pernah jaya sebagai kerajaan besar, lalu terperosok ke jurang konflik dan luka sejarah.
Dari kecil, saya tidak diajarkan kekuasaan, saya diajarkan etika oleh orang tua saya, yang guru zaman Jepang, bukan untuk menjadi penguasa, tapi menjadi manusia.
Kalau ada orang Aceh yang diajarkan hanya kekuasaan bukan menjadi manusia maka wajarlah lahir kepemimpinan yang tidak paham menghargai rakyat, apalagi menghargai mereka yang memahami secara keilmuan.
Saya ingat betul pesan sederhana ibu saya saat makan:“Jangan biarkan nasi tumpah. Ia menangis. Jangan sisakan, karena itu jadi makanan setan.”Itulah pendidikan pertama saya tentang menghargai kehidupan, dari benda yang terlihat mati namun hidup dalam nilai.
Di masa ini, terlalu banyak pemimpin yang hidup tanpa memahami bahwa segala sesuatu di alam ini adalah makhluk hidup.
Mereka memperlakukan rakyat seperti angka, bukan manusia. Mereka memperlakukan kekuasaan sebagai hak, bukan amanah.
Padahal, etika alam adalah fondasi untuk mendekati Tuhan. Kita tidak perlu saling menepuk dada soal agama mana yang paling benar.
Kita hanya perlu bertanya:Sudahkah kita hidup dalam tata nilai semesta?Sudahkah kita menghormati semut di jalan, nasi di piring, dan suara rakyat di tengah malam?
Kutipan dari Ilmuwan Islam Ibnu Khaldun
“Kekuasaan tanpa keadilan adalah bentuk kezaliman, dan keadilan adalah pondasi negara yang paling agung.”(Ibnu Khaldun, sejarawan dan filsuf Islam).
Ibnu Khaldun mengingatkan bahwa kekuasaan bukanlah hak mutlak, tapi amanah yang harus dijalankan dengan keadilan.
Tanpa itu, negara dan daerah akan runtuh dari dalam.
Politik hari ini telah menjadi panggung penipuan.Segala tipu daya dibenarkan atas nama “strategi”.
Padahal hakikat politik adalah seni mengelola hidup bersama, bukan seni memenangkan jabatan.
Demokrasi hanya akan bermakna jika ada etika politik yaitu penghormatan pada hak orang lain, bahkan saat kita berbeda pendapat.
Demokrasi tanpa etika adalah kehancuran yang ditunda.
Saya tidak butuh jadi raja dan Saya hanya ingin rakyat Aceh dan siapa pun yang lahir di tanah konflik merasakan kehidupan yang layak. Negara tidak harus membuat rakyat kaya.
Negara hanya wajib memastikan mereka tidak melarat. Standar hidup harus dijaga, agar musyawarah tetap menjadi cara hidup bersama.
Itulah batasan udeep saree, matee syahid yang berlaku dalam masyarakat Aceh yang sesungguhnya.
Kutipan dari Pemikir Amerika – John Adams (Pendiri bangsa AS)
“Our Constitution was made only for a moral and religious people. It is wholly inadequate to the government of any other.”(John Adams, Presiden ke-2 AS)
Demokrasi hanya bisa berjalan jika rakyat dan pemimpin memiliki moralitas. Konstitusi tidak akan berguna bagi orang yang tidak menghormati etika.
Agama mengajarkan bahwa setiap kita adalah pemimpin.
Kutipan dari Filsuf Asia – Confucius (Kong Hu Cu)
“To govern is to correct. If you set an example by being correct, who would dare remain incorrect?”Confucius, Tiongkok
Makna: Kepemimpinan sejati dimulai dari diri sendiri. Pemimpin adalah panutan; jika ia benar, rakyat akan ikut benar.
Maka, jika kamu politisi, pejabat, atau sekadar warga, yang harus kita ingat adalah;Tuhan memberi kita di dunia ini lahir dalam keadaan telanjang.Yang membalut kita adalah nilai. Yang membuat kita manusia adalah sikap. Dan yang membuat kita abadi adalah kebaikan yang kita wariskan.
Jangan tunggu mati untuk menjadi manusia.Jadilah manusia, sekarang.
